S |
alah satu Syubhat Iblis untuk menghalangi manusia dari kebenaran adalah menjauhinya dari al-Qur’an ketika seorang hamba tersebut ingin mempelajarinya.
Syubhat iblis tersebut ialah menyatakan bahwa mempelajari kebenaran dan mengetahui kebenaran merupakan perkara sulit atau kebenaran itu masih kabur, belum begitu jelas. Ini adalah syubhat iblisyah (yang dilontarkan iblis) untuk memalingkan manusia dari mencari kebenaran (ash-Shawarifu’anil Haqqi hlm. 14) Pandangan ini telah Allah bantah dalam Firmannya yang berarti Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an) (QS. An-Nisa[4]:147)
Dengan ayat tersebut Syaikh asy-Syanqithi rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, bahwa al-Qur’an al-Azhim merupakan cahaya yang diturunkan Allah subhanallahu wata’ala ke dunia untuk menjadi sumber pelita. Melalui cahaya itu, diketahui perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang berbahaya serta perkara hidayah dan kesasatan. (Adhawatul Bayan 7/3435)
Inilah jaminan dari Allah subhanallahu wata’ala yang tertuang dalam surat al-Qamar ayat 17 yang artinya: dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?.
Allah subhanallahu wata’ala mengulang – ulang ayat ini sebanyak empat kali di dalam surat yang sama. Pemberian Kemudahan yang telah ditegaskan Allah subhanallahu wata’ala mencakup kemudahan dalam membaca, menghafalkan, memahami dan mengamalkannya (lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, (maksudnya) kami sudah memudahkan lafazhnya, dan Kami sudah memudahkan (memahami) maknanya bagi siapa saja yang menghendaki agar manusia dapat mengambil pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran dari al-Qur’an yang sudah Allah subhanallahu wata’ala mudahkan untuk dihafal dan dimengerti? (Tafsir Ibnu Katsir 7/478)
Imam Ibnu Katsir mengutip ayat lain yang menunjukkan makna yang sama bahwa Allah subhanallahu wat’ala telah memudahkan memahami al-Qur’an bagi siapa saja yang punya niat baik untuk mempelajarinya, yakni QS-Maryam ayat 97 yang artinya Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu untuk bahasamu agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang – orang yang bertaqwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
Dalam QS. Al-Qamar 54/17 ada kata adz-Dzikru, adz-Dzikru dalam ayat ini cakupannya luas, mencakup segala yang akan menghasilkan pelajaran bagi orang – orang yang beramal, seperti pengetahuan tentang hukum halal dan haram, amar ma’ruf dan nahi munkar, aqidah dan berita yang jujur (lihat tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Oleh karena itu, ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an merupakan ilmu yang paling mudah dan paling agung secara mutlak, merupakan ilmu yang bermanfaat, jika seorang hamba mencarinya (mempelajarinya) akan diberi pertolongan. Sehingga sebagian ulama salaf mengatakan tentang ayat ini:” Apakah ada orang yang mau belajar ilmu (al-Qur’an), sehingga mendapatkan pertolongan (dalam mempelajarinya)” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Firman Allah dalam al-Qur’an Surah Thoha ayat 123 – 124 yang artinya: Dia (Allah) berfirman,” Turunlah kamu berdua dari surga bersama – sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-ku maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”. Di tafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan berkata:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَاتَّبَعَ مَافِيْهِ هَدَاهُ اللهُ مِنْ ضَلَالَة وَوَقَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سُوْاُ الْحِسَابِ
Barang siapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada di dalamnya, maka Allah subhanallahu wata’ala akan menunjukinya dari kesesatan dan menjauhkan darinya hisab (perhitungan) yang buruk di hari kiamat. (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilhyah dan Ibnu Mardawaih)
Demikianlah, kembali penjelasan singkat ini dapatlah diketahui bahwa kesalahan pandangan yang menyatakan mempelajari dan mengetahui kebenaran merupakan perkara sulit atau kebenaran itu masih kabur, belum begitu jelas. Ini adalah Syubhat Iblisyah (yang dilontarkan iblis) untuk memalingkan manusia dari mencari kebenaran.
Syaikh asy-Syinqithi rahimahullahh mengatakan, “Apabila maksud mereka bahwa mempelajari keduanya (al-Qur’an dan Sunnah) merupakan perkara sulit, tidak mampu dilakukan siapapun, ini PERNYATAAN BATIL. Sebab mempelajari al-Qur’an dan Sunnah jauh lebih mudah ketimbang mempelajari Ra’yu dan Ijtihad yang banyak tersebar (di kitab – kitab Ulama). Allah subhanallahu wata’ala telah mengulang – ulang beberapa kali firman-Nya: “dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? (Adhawatul Bayan 7/435)”. (QS. Al-Qamar 17)
Al-Qur’an adalah kitab yang telah dimudahkan untuk dibaca dan dipahami (Karena kemudahan yang Allah subhanallahu wata’ala) oleh orang – orang yang mendapatkan taufik dari Allah subhanallahu wata’ala untuk beramal. “barang siapa yang memperhatikan (al-Qur’an) Allah subhanallahu wata’ala benar – benar akan memudahkan mewujudkan apa yang diinginkannya”. (Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah telah menegaskan, “hendaknya engkau tahu bahwa mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di masa sekarang jauh lebih mudah daripada di masa – masa permulaan Islam, karena adanya kemudahan dalam mengetahui segala hal yang berkaitan dengannya karena masalah – masalah itu sudah diteliti, dirapikan dan dibukukan. Jadi semuanya dapat dijangkau dengan mudah hari ini.
Seluruh hadits Nabi telah dihafalkan dan dibukukan, dan telah diketahui kondisi matan – matan dan sanad – sanadnya, serta cacat dan kelemahan yagn ada dalam jalur periwatannya.(Adhawatul Bayan 7/436 – 437) Ini adalah kebenaran dari Allah subhanallahu wata’ala dan kebenaran itu bersifat jelas. Allah subhanallahu wata’ala berfirman yang artinya dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau mengambil) pelajaran?” (QS. Al-Qomar 54/ 17)
Allah subhanallahu wata’ala telah memudahkana lafazh – lafazhnya untuk dibaca dan memudahkan maknanya untuk dipahami. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas. Dan di antara keduanya (perkara halal dan haram) terdapat hal – hal yang menganduung syubhat (ketidakjelasan hukum). (Muttafaqun Alaihi).
Syaikh asy-Syingqithi (1325-1393) rahimahullah mengatakan “dengan ini engkau telah tahu wahai orang Muslim, engkau wajib tekun dan bersungguh – sungguh dalam mempelajari kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melalui berbagai cara yang bermanfaat lagi menghasilkan dan kemudian mengamalkan seluruh ilmu yang telah Allah subhanallahu wata’ala ajarkan kepadamu” (Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar