Sabtu, 14 Mei 2011

BACALAH AL-QUR’AN



S
alah satu Syubhat Iblis untuk menghalangi manusia dari kebenaran adalah menjauhinya dari al-Qur’an ketika seorang hamba tersebut ingin mempelajarinya.
Syubhat iblis tersebut ialah menyatakan bahwa mempelajari kebenaran dan mengetahui kebenaran merupakan perkara sulit atau kebenaran itu masih kabur, belum begitu jelas. Ini adalah syubhat iblisyah (yang dilontarkan iblis) untuk memalingkan manusia dari mencari kebenaran (ash-Shawarifu’anil Haqqi hlm. 14) Pandangan ini telah Allah bantah dalam Firmannya yang berarti Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an) (QS. An-Nisa[4]:147)
Dengan ayat tersebut Syaikh asy-Syanqithi rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, bahwa al-Qur’an al-Azhim merupakan cahaya yang diturunkan Allah subhanallahu wata’ala ke dunia untuk menjadi sumber pelita. Melalui cahaya itu, diketahui perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang berbahaya serta perkara hidayah dan kesasatan. (Adhawatul Bayan 7/3435)
Inilah jaminan dari Allah subhanallahu wata’ala yang tertuang dalam surat al-Qamar ayat 17 yang artinya: dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?.
Allah subhanallahu wata’ala mengulang – ulang ayat ini sebanyak empat kali di dalam surat yang sama. Pemberian Kemudahan yang telah ditegaskan Allah  subhanallahu wata’ala mencakup kemudahan dalam membaca, menghafalkan, memahami dan mengamalkannya (lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, (maksudnya) kami sudah memudahkan lafazhnya, dan Kami sudah memudahkan (memahami) maknanya bagi siapa saja yang menghendaki agar manusia dapat mengambil pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran dari al-Qur’an yang sudah Allah subhanallahu wata’ala mudahkan untuk dihafal dan dimengerti? (Tafsir Ibnu Katsir 7/478)
Imam Ibnu Katsir mengutip ayat lain yang menunjukkan makna yang sama bahwa Allah subhanallahu wat’ala telah memudahkan memahami al-Qur’an bagi siapa saja yang punya niat baik untuk mempelajarinya, yakni QS-Maryam ayat 97 yang artinya Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu untuk bahasamu agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang – orang yang bertaqwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
Dalam QS. Al-Qamar 54/17 ada kata adz-Dzikru, adz-Dzikru dalam ayat ini cakupannya luas, mencakup segala yang akan menghasilkan pelajaran bagi orang – orang yang beramal, seperti pengetahuan tentang hukum halal dan haram, amar ma’ruf dan nahi munkar, aqidah dan berita yang jujur (lihat tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Oleh karena itu, ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an merupakan ilmu yang paling mudah dan paling agung secara mutlak, merupakan ilmu yang bermanfaat, jika seorang hamba mencarinya (mempelajarinya) akan diberi pertolongan. Sehingga sebagian ulama salaf mengatakan tentang ayat ini:” Apakah ada orang yang mau belajar ilmu (al-Qur’an), sehingga mendapatkan pertolongan (dalam mempelajarinya)” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Firman Allah dalam  al-Qur’an Surah Thoha ayat 123 – 124 yang artinya: Dia (Allah) berfirman,” Turunlah kamu berdua dari surga bersama – sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-ku maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”. Di tafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan berkata:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَاتَّبَعَ مَافِيْهِ هَدَاهُ اللهُ مِنْ ضَلَالَة وَوَقَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سُوْاُ الْحِسَابِ
Barang siapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada di dalamnya, maka Allah subhanallahu wata’ala akan menunjukinya dari kesesatan dan menjauhkan darinya hisab (perhitungan) yang buruk di hari kiamat. (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilhyah dan Ibnu Mardawaih)
Demikianlah, kembali penjelasan singkat ini dapatlah diketahui bahwa kesalahan pandangan  yang menyatakan mempelajari dan mengetahui kebenaran merupakan perkara sulit atau kebenaran itu masih kabur, belum begitu jelas. Ini adalah Syubhat Iblisyah (yang dilontarkan iblis) untuk memalingkan manusia dari mencari kebenaran.
Syaikh asy-Syinqithi rahimahullahh mengatakan, “Apabila maksud mereka bahwa mempelajari keduanya (al-Qur’an dan Sunnah) merupakan perkara sulit, tidak mampu dilakukan siapapun, ini PERNYATAAN BATIL. Sebab mempelajari al-Qur’an dan Sunnah jauh lebih mudah ketimbang mempelajari Ra’yu dan Ijtihad yang banyak tersebar (di kitab – kitab Ulama). Allah subhanallahu wata’ala telah mengulang – ulang beberapa kali firman-Nya: “dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? (Adhawatul Bayan 7/435)”. (QS. Al-Qamar 17)
Al-Qur’an adalah kitab yang telah dimudahkan untuk dibaca dan dipahami (Karena kemudahan yang Allah subhanallahu wata’ala) oleh orang – orang yang mendapatkan taufik dari Allah subhanallahu wata’ala untuk beramal. “barang siapa yang memperhatikan (al-Qur’an) Allah subhanallahu wata’ala benar – benar akan memudahkan mewujudkan apa yang diinginkannya”. (Tafsir as-Sa’di hlm. 905)
Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah telah menegaskan, “hendaknya engkau tahu bahwa mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di masa sekarang jauh lebih mudah daripada di masa – masa permulaan Islam, karena adanya kemudahan dalam mengetahui segala hal yang berkaitan dengannya karena masalah – masalah itu sudah diteliti, dirapikan dan dibukukan. Jadi semuanya dapat dijangkau dengan mudah hari ini.
Seluruh hadits Nabi telah dihafalkan dan dibukukan, dan telah diketahui kondisi matan – matan dan sanad – sanadnya, serta cacat dan kelemahan yagn ada dalam jalur periwatannya.(Adhawatul Bayan 7/436 – 437) Ini adalah kebenaran dari Allah subhanallahu wata’ala dan kebenaran itu bersifat jelas. Allah subhanallahu wata’ala berfirman yang artinya dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau mengambil) pelajaran?” (QS. Al-Qomar 54/ 17)
Allah subhanallahu wata’ala telah memudahkana lafazh – lafazhnya untuk dibaca dan memudahkan maknanya untuk dipahami. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas. Dan di antara keduanya (perkara halal dan haram) terdapat hal – hal yang menganduung syubhat (ketidakjelasan hukum). (Muttafaqun Alaihi).

Syaikh asy-Syingqithi (1325-1393) rahimahullah mengatakan “dengan ini engkau telah tahu wahai orang Muslim, engkau wajib tekun dan bersungguh – sungguh dalam mempelajari kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melalui berbagai cara yang bermanfaat lagi menghasilkan dan kemudian mengamalkan seluruh ilmu yang telah Allah subhanallahu wata’ala ajarkan kepadamu” (Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran)



Minggu, 08 Mei 2011

Gaya Pemimpin yang adil


رِسَالَةُ عَمَرَبْنِ الْخَطَّابِ إِلى أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِيِّ قَاضِى الْكُوفَةِ
وَقَالَ عُمَرُبْنُ الْخَطَّابِ فِي رِسَالَتِهِ إِلى أَبِي مُوْسَى اْلأَشْعَرِيِّ قاَضِى الْكُوْفَةِ: ((أَمَّابَعْدُ، فَإِنَّ الْقَضَاءَ فَرِيْضَةٌ مُحْكَمَةٌ وَسُنَّةٌ مُتَّبَعَةٌ، فَافْهَمْ إِذَاأُدْلِيَ إِلَيْكَ وَانْفُذْ إِذَاتَبَيَّنَ لَكَ، فَإِنَّهُ لاَ يَنْفَعُ تَكَلًّمٌ بِحَقٍّ لاَ نَفَاذَلَهُ، آسِ النَّاسَ فِيْ مَجْلِسِكَ وَفِي وَجْهِكَ وَقَضَائِكَ حَتّى لاَ يَطْمَعَ شَرِيْفٌ فِي حَيْفِكَ وَلاَ يَيْأَسَ ضَعِيْفٌ مِنْ عَدْلِكَض، الْبَيِّنَةُ عَلىَ الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنُ عَلى مَنْ أَنْكَرَ، وَالصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا اَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلَا لاً، وَمَنِ ادَّعى حَقًّ غَائِبًاأَوْبَيِّنَةً فَاضْرِبْ لَهُ أَمَدًا ينَتَهِيْ إِلَيْهِ، فَإِنْ بَيِّنَهُ أَعْطَيْتَهُ بِحَقِّهِ وَإِنْ أَعْجَزَهُ ذالِكَ اِسْتَحْلَلْتَ عَلَيْهِ الْقَضِيَّةَ، فَإِنَّ ذَالِكَ هُوَأَبْلَغُ فِى الْعُذْرِوَأَجْلى لِلْعَمَاءِ، وَلاَيَمْنَعَنَّكَ قَضَآءُ قَضَيْتَ فِيْهِ الْيَوْمَ فَرَاجَعْتَ فِيْهِ رَأْيَكَ فَهُدِيْتَ فِيْهِ لِرُشْدِكَ أَنْ تُرَاجِعَ فِيْهِ الْحَقَّ، فِإِنَّ الْحَقَّ قَدِيْمٌ لاَيُبْطِلُهُ شَيْءٌ وَمُرَاجَعَةُ الْحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِيْ فِى الْبَاطِلِ، وَالْمُسْلِمُوْنَ عُدُوْلٌ بَعْضُهُمْ عَلى بَعْضٍ إِلاَّ مُجَرَّبًاعَلَيْهِ شَهَادَةُ زَوْرٍ أَوْمَجْلُودًافِي حَدٍّ أَوْظَنِيْنًافِيِ وَلاَءٍ أَوْقَرَابِةٍ فَإِنَّ اللهَ تَعَالى تَوَلّى مِنَ الْعِبَادِ السَّرَائِرَوَسَتَرَعَلَيْهُمُ الْحُدُوْدَ إِلاَّ بِالْبَيِّنَاتِ وَالْأَيْمَانِ، ثُمَّ الْفَهْمَ الْفَهْمَ فِيْمَاأُدْلِي إِلَيْكَ مِمَّ وَرَدَعَلَيْكَ مِمَّالَيْسَ فِى الْقُرْآَنِ وَلَاسُنَّةٍ، ثُمَّ قَايِسِ الْأُمُوْرَعِنْدَذَالِكَ، وَأَعْرِفِ الْأَمْثَالَ ثُمَّ اعْمْدْفِيْمَا تَرَاى إِلى أَحَبِّهَاإِلى اللهِ وَأَشْبَهِهَابِالْحَقِّ، وَإِيَّاكَ وَالْغَضَبَ وَالْقَلَقَ وَالضَّجَرَوَالتَّأَذِّيْ بِالنَّاسِ وَلتَّنَكُّرِعِنْدَ الْخُصُوْمَةِ أَوِ الْخُصُوْمِ فَإِنَّ الْقَضَاءَفِيْ مَوَاطِنِ الْحَقِّ مِمَّايُوْجِبُ اللهُ بِهِ الْأَجْرَوَيُحْسِنُ بِهِ الذِّكْرَ، فَمَنْ خَلُصَتْ نِيَتُهُ فِى الْحَقِّ وَلَوْ عَلى نَفْسِهِ كَفَاهُ اللهُ مَابَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ تَزَيَّنَ بِمَالَيْسَ فِي نَفْسِهِ شَانَهُ اللهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالى لاَيَقْبَلُ مِنَ الْعِبَادِ إِلاَ مَاكَانَ خَالِصًا، وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ))

Surat Umar bin al-Khathab kepada Abu Musa, Hakim Kuffah.
Berkata Umar bin al-Khathab dalam suratnya kepada Abu Musa, Hakim Kuffah:
“Amma ba’du, bahwa sesungguhnya peradilan itu adalah suatu kewajiban yang ditetapkan oleh Allah subhanallahu wa ta’ala dan suatu sunah Rasul yang wajib diikuti. Maka pahamilah benar – benar jika ada suatu perkara yang dikemukakan kepadamu dan laksanakanlah jika jelas kebenarannya, karena sesunguhnya tidaklah berguna pembicaraan tentang kebenaran yang tidak ada pengaruhnya (tidak dapat dijalankan). Persamakanlah kedudukan manusia itu dalam majelismu, pandanganmu dan keputusanmu sehingga orang bangsawan tidak dapat menarik kamu kepada kecurangan dan orang yang lemahpun tidak terputus asa dan keadilanmu.
Keterangan berupa bukti atau saksi hendaklah dikemukakan oleh orang yang mendakwa dan sumpah hendaklah dilakukan oleh orang yang mungkir (terdakwa).
Perdamaian diizinkan hanya antara orang – orang yang bersengketa dari kalangan muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan barang yang haram atau mengharamkan barang yang haram.
Barang siapa mengaku sesuatu hak yang ghaib atau sesuatu yang jelas mana bukti – bukti yang akan dikemukakannnya itu masih belum terkumpul di tangannya, maka berikanlah kepada orang itu tempo yang ditentukan. Maka jika ia dapat mengemukakan bukti – bukti tersebut, berikanlah haknya, dan jika ia tidak sanggup, maka selesaikanlah persoalannya. Sebab cara memberikan tempo yang ditentukan itu adalah sebaik – baik penangguhan dan lebih menjelaskan keadaan yang samar dan tidaklah akan menghalangimu kembali kepada kebenaran karena kebenaran itu adalah kadim (abadi) yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu, dan kembali kepada kebenaran itu adalah lebih baik daripada terus menerus di dalam kesesatan.
Kaum muslimin itu adalah orang – orang yang adil terhadap sesama mereka, kecuali orang yang pernah bersumpah palsu atau orang yang pernah dikenakan hukuman jilid (dera) atau orang yang tertuduh dalam kesaksiannya berhubungan karena kerabat. Hanyalah Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang menguasai rahasia hati hamba – hambanya dan melindungi mereka dari hukumannya kecuali ternyata dengan bukti – bukti yang sah atau sumpah.
Kemudian pahamilah, pahamilah benar – benar persoalan yang dipaparkan kepadamu tentang suatu perkara yang tidak terdapat di dalam al-Qur’an atau di dalam sunnah Rasul. Kemudian pada waktu itu pergunakanlah qias (analogi) terhadap perkara – perkara itu dan carilah pula contoh  - contohnya, kemudian berpeganglah menurut pandanganmu kepada hal yang terbaik pada sisi Allah subhanallahu wa ta’ala dan yang lebih mirip kepada yang benar.
Jauhilah sifat membenci, mengacau, membosankan, menyakiti hati manusia dan jauhilah berbuat curang saat terjadi persengketaan atau permusuhan, karena sesungguhnya peradilan itu berada di tempat yang hak dimana Allah subhanallahu wa ta’ala telah mewajibkan pahala di dalamnya dan juga merupakan peringatan yang baik. Barang siapa yang ikhlas niatnya untuk menegakkan yang haq walaupun atas dirinya sendiri, Allah subhanallahu wa ta’ala akan mencukupkan antara dirinya dan antara manusia dan barang siapa yang berhias diri dengan apa yang tidak ada pada dirinya, maka Allah subhanallahu wa ta’ala akan memberikan aib kepadanya.
Sesungguhnya Allah subhanallahu wa ta’ala tidak akan menerima hamba – hamba-Nya kecuali yang ikhlas, Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabaraakatuh. (Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 2)

Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an Kepada Mayit


Menurut Imam Syafi’i Dan Ulama Syafi’iyah


Firman Allah Swt
38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
(QS. An-Najm: 38 – 39)



1. Al Hafizh Ibnu Katsir telah berkata di Dalam Mentafsirkan Ayat Diatas :
... لا يحمل عليه وزرغيره كذالك لا يحصل من الاجر الا ما كسب هو لنفسه، ومن هذه الاية الكريمة استنبط الشافعى رحمه الله ومن تبعه انّ القرأة لا يصل اهداء ثوابها الى الموتى لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ولهذا لم يندب اليه رسول الله صلى الله عليه وسلم امته ولا حثهم عليه ولا ارشدهم اليه بنصّ ولا اماء ولم ينقل ذالك عن احد من الصحابة رضي الله عنه ولو كان خيرا لسبقونا اليه 



“Yaitu sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa–apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini (ayat An-Najm: 39), Imam Syafi’i dan ulama–ulama yang mengikutinya telah mengambil (kesimpulan) hukum, bahwa bacaan yang pahalanya di hadiahkan (dikirimkan) kepada mayit tidak dapat sampai, karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka.

Oleh karena itu Rasulullah SAW tidak pernah mensyari’atkan umatnya (untuk menghadiahkan) bacaan Al-Qur’an, kepada orang yang telah mati dan juga tidak pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan Nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai–sampai dalil isyarat pun tidak ada) dan tidak pernah dinukil (kutip) dari seorang pun sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan al-Qur’an kepada orang yang telah mati.

Kalau sekiranya perbuatan itu baik pasti para sahabat telah mendahului kita mengamalknya dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil (nash–nash) dan tidak boleh dipalingkan dengan berbagai macam qiyas dan ro’yu (pikiran) .

 Periksa Tafsir Ibnu Katsir (Juz : IV hal . 272) cet. Darus Salam dan Ahkamul Janna: 12. hlm 220 cet. Maktabah al-Ma’arif.
Apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Imam Syafi’i itu merupakan pendapat sebagian besar ulama dan juga pendapatnya Imam Hanafi, sebagaiman dinukil oleh az-Zubaidi dalam sarah Ihya Ulumuddin (x/369)

 Lihat Ahkamul Janaa-iz .hlm 220-221 cet. Maktabah Al-Ma’arif th. 1412 H.
2. Di Dalam Kitab Tafsir Jalalain di Sebutkan Demikian :
فليس له من سعى غيره الخيرشيء
“Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha orang lain“ (tafsir Jalalain :2/197)

 Periksa Tafsir Jalalain (Juz 2 hal :197)
3. Imam Al-Khozin di dalam Tafsirnya mengatakan:
والمشهور من مذهب الشافعى انّ القرأة القرأن لا يصل للميت ثوابها
Dan pendapat yang mashur dari Madzhab Syafi’i, bahwa bacaan al-Qur’an (yang pahalanya dihadiahkan/dikirimkan kepada orang yang telah mati) adalah tidak dapat sampai kepadanya.

 Periksa Tafsir al-Jamal (Juz: 1V hal:236)
4. Imam Muzani, Hamisyi Al-Um, Mengatakan:
فاعلم رسو ل الله صلى الله عليه وسلم كما اعلم الله من انّ جناية كل امرئ عليه كما ان عمله له لا لغيره ولا عليه
Rosulullah SAW memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalnya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan tidak dapat dikirimkan kepada orang lain

 Periksa di Pinggiran /tepi Kitab al-Um karya Imam Syafi’i (juz: 7 hal. 269)



5. Pendapat Imam Asy- Syafi’iرحمه الله . Sebagaimana Imam An- Nawawi Berkata:
واما قرأء ة القرأن فالمشهور من مذهب الشافعى انه لا يصل ثوابها الى الميت .... ودليل الشافعى وموافقيه قول الله تعالى . وان ليس للانسان الا ما سعى . وقول النبي صلى الله عليه وسلم : اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث: صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يد عوله
Adapun bacaan al-Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) maka pendapat yang masyhur dari Madzab Syafi’i, tidak sampai kepada mayit yang dikirim.

Sedang dalil Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu Firman Allah ta’ala (yang artinya) “dan seseorang tidak akan memperoleh melainkan pahala usahanya sendiri “dan sabda Nabi SAW. (yang artinya)“ apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya (usahanya) kecuali tiga hal, yaitu shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh“ (laki-laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)

 Periksa Syarah Muslim karya Imam an-Nawawi (juz;1 hlm.90)
Juga imam Nawawi berkata:
واما قراءة القران وجعل ثوابها للميت والصلاة عنه ونحوها فذهب الشافعي والجمهور انهالا تلحق الميت وكرر ذالك فى عدة مواضع فى شرح مسلم 
“Adapun bacaan al-Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti sholatnya mayit tersebut menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi dan keterangan seperti ini telah di ulang–ulang oleh Imam an-Nawawi di dalam kitabnya syarah Muslim “(As-Subki, Takmilatul Najmu, Syarah Muhadzab, juz.10, hlm 426)

 Periksa Takmilatul Majmu, Syarah Muhadzab karya Imam As-Subky (juz: 10. Hlm.426)



6. Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitami Berkata :
الميت لا يقرأ عليه مبني على ما اطلقه المتقدمون من ان القراءة لا تصله اى الميت لأن ثوابها للقارئ والثواب المرتب على عمل لا ينقل عن عامل ذالك العمل قال الله تعالى : وان ليس للانسان الا ما سعى
“Mayit tidak boleh dibacakan apapun”!, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama Muttaqien (terdahulu) bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, karena pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkannya) perbuatan itu, berdasarkan Firman Allah (Yang artinya; “dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”.

 Periksa al-Fatawal Kubro al-Fiqhiyah karya al-Haitami (juz: 2. Hlm. 9)
Demikian antara berbagai pendapat ulama–ulama Syafi’iyah tentang acara tahlihlan atau acara pengiriman pahala bacaan kepada orang yang telah mati (mayit) yang ternyata mereka mempunyai satu pandangan, yaitu bahwa mengirimkan pahala bacaan kepada mayit itu adalah tidak dapat sampai kepada mayit/arwah yang dikirimi, lebih–lebih lagi kalau yang dibaca itu selain al-Qur’an, tentu saja akan lebih tidak sampai kepada mayit/arwah yang dikirimi.

Jika sudah jelas, bahwa pengiriman pahala tersebut tidak dapat sampai, maka acara–acara semacam itu adalah sia–sia belaka, atau dengan kata lain merupakan tabdzir, padahal Islam melarang umatnya berbuat sia–sia dan tabdzir.

Adapun dasar hukum dari pendapat mereka itu adalah Firman Allah SWT dalam surat an-Najm ayat 39, dan hadits Nabi SAW tentang terputusnya amal manusia apabila ia telah meninggal dunia kecuali tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak yang sholeh, baik laki–laki maupun perempuan yang berdo’a untuk orang tuanya.

Kamudian timbul pertanyaan, bagaimana jika senadainya setiap usai tahlilan lalu berdo’a.
اللهمّ اوصل ثواب ما قرأناه الى فلان ابن فلان ؟
“Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan kami tadi kepada roh fulan bin fulan”
Pertanyaan di atas dapat dijawab demikian. “Ulama telah sepakat, bahwa pengiriman pahala bacaan itu tidak dapat sampai kepada mayit/arwah yang dikirimi, karena bertentangan dengan Firman Allah SWT surat an-Najm: ayat 39”.

Adalah sangat janggal, jika kita berbuat mengirimkan pahala bacaan kepada mayit, yang berarti kita telah melanggar syari’at-Nya, tetapi kemudian kita memohon agar perbuatan yang melanggar syari’at itu dipahalai, dan lebih dari itu, mohon lagi agar pahalanya disampaikan kepada arwah fulan bin fulan.

Jadi jika seusai acara tahlilan itu, kita lalu berdo’a seperti itu, rasanya sangat janggal dan tetap tidak dapat di benarkan, karena terjadi hal–hal yang kontradiktif (bertentangan), yaitu disatu sisi do’a adalah ibadah dan disisi lain amalan pengiriman pahala bacaan melanggar syari’at. Yang kemudian amalan semacam itu kita mohonkan agar diberi pahala dan pahalanya disampaikan kepada arwah?

Pendapat Imam Syafi'i terhadap Ahli Tasawuf


وباسناد عن يونس بن عبد الأعلى قال سمعت الشافعي يقول: لو أن رجلا تصوف أول النهار لايأتي الظهر حتى يصير أحمق ، وعنه أيضأ أنه قال، مالزم احد الصوفية أربعين يوما فعاد عقله اليه أبدا
وأنشد الشافعي : ودعوا الذين إذا أتوك تنسكوا       وإذاخلواكانواذئاب حقاف
(تلبيس ابليس للحافظ الامام جمال الدين ابي الفرج عبد الرحمن ابن الجوزي البغدادي المتوفي سنة 597 هـ hlm 416)


Dengan sanad dari Yunus bin Abdil A’la dia berkata aku telah mendengar syafi’I berkata: bahwasanya SESEORANG YANG MENGAMALKAN TASAWWUF  pada pagi hari (awal siang) maka sebelum waktu dzuhur dia telah menjadi orang yang dungu.

Dan dari Yunus bin Abdil A’la dia berkata pula bahwasanya imam Syafi’I telah berkata tidaklah seseorang mengamalkan ilmu tasawwuf selama empat puluh hari SAJA kecuali akalnya tidak akan pernah kembali waras. (Kitab Talbis Iblis Karya Imam Ibnu Jauzy (wafat:597) hlm. 416)

Pendapat Imam Syafi'i tentang Qiyas (Analogi)


Imam Syafi'i berkata tidak ada Qiyas (analogi) dalam urusan Ibadah dan berkata imam Ahmad aku pernah bertanya kepada Imam Syafi'i tentang Qiyas maka beliau menjawab ketika darurat....
Wal hasil:
  1. Qiyas adalah dasar hukum yang keempat dalam Islam setelah al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma' -dapat dipergunakan hujjah dalam agama, dan dapat dipakai atau dipergunakan hanya dalam urusan adat, muamalat, dan keduniyaan yang memang tidak ada nash-nya dalam al-Qur'an dan/ atau dalam Sunnah dan Ijma' yang muktabar.
  2. Qiyas tidak sekali - kali dapat dipakai atau  dipergunakan untuk urusan ibadah, Aqidah, dan keagamaan. karena urusan agama (Ibadah dan Aqidah) adalah Tauqifiah -harus didasarkan atas nash yang sharih (terang) dari kitabullah (al-Qur'an) dan/atau dari Sunnah. Ibadah yang dilakukan dengan jalan Qiyas adalah bid'ah hukumnya. yang membawa kesesatan bagi orang yang mengerjakannya.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil (Nash - nash) dan tidak boleh dipalingkan dengan berbagai macam Qiyas dan Ro'yu (pikiran).
(Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz IV hlm. 272)

Perkataan Imam Syafi'i dan Ashabnya tentang Ilmu


لا يجوز لأحد ابدا ان يقول فى شيئ حل ولا حرام الا من جهة العلم، وجهة العلم الخبر فى الكتاب والسنة والاجماع اوالقياس
Tidak boleh selamanya bagi seseorang selamanya mengatakan sesuatu itu halal atau haram kecuali dari sumber ilmu. Ilmu adalah kabar yang terdapat pada kitab (al-Qur’an), Sunnah dan Ijma’ atau Qiyas. (Ar-Risalah 38)

Imam Syafi'i rhm. mewajibkan kpd org yg brbicara ttg agama utk brpedoman kpd al-Qur'an & Sunnah. Beliau rhm. brkta: "Setiap org yg brbicara  brdasarkn al -Qur'an & sunnah,maka itu adlh ketentuan yg wajib diikuti. Dan setiap org yg berbicara  tdk brlandaskan kpd al-Qur'an & tdk pula kpd sunnah, maka itu adalah kebingunan( dikeluarkan oleh imam al-Baehaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafi’I: hlm. 470)

Imam Muzani berkata aku mendengar Syafi’I rahimahullah: barang siapa yang mempelajari alqur’an maka telah tinggi kedudukannya (al-Muntazim: Juz 10 hlm. 137 dan Shofwatush-Shofwah Juz 2 hlm. 254)

Berkata Imam Muzani dan Imam Robi’ : pada suatu hari kami berada di sisi imam syafi’I, tiba – tiba datang seorang orang tua lalu ia berakta kepada imam Syafi’i: “Aku ingin bertanya, “ jawab Imam Syafi’I: “Silahkan”. Lalu ia berkata,” Apakah Hujjah dalam agama Allah?” maka Imam Syafi’I Rahimahullahh menjawab,”Kitab Allah” (al-Qur’an), Ia bertanya lagi,”Kemudian Apa?”, Jawab Syafi’I, “Sunnah Rasulullah!” (Ahkamul QUr’an:39)

Dan Beliau rahimahullah ungkapkan dalam sebuah sya’ir setiap ilmu selain al-Qur’an adalah kelalaian kecuali ilmu Hadits dan Fiqih tentang Agama yang dikatakan ilmu adalah yang diriwayatkan dan selain itu adalah bisikan syaithan. (Syarah Aqidah ath-Thahawiyah: 69)

Imam Adz-Dzahabi Rahimaullah berkata; Ilmu itu adalah firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, serta perkataan Shahabat, bukan sekedar kamuplase. Bukanlah ilmu jika engkau mempertentangkan perselisihan karena kebodohan. Antara Rosul dengan pendapat seorang ahli Fiqih.

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata cita – citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu kepelosok kota dan desa. Mengajak manusia kepada al-Qur’an dan sunnah yang kini banyak dilalaikan Manusia.(Syar a’lam nubala:18/206)

Wasiat Aqidah Imam Syafi’i

Maret 17, 2007 pada 5:14 pm (AkidahAl aqidahAnti ThogutAqidahAqidah Al IslamiyahAqidah Dan TauhidAqidah IslamAqidah MuslimAqidah Nabi AllohAqidah ShohihahArtikelArtikel AqidahArtikel IslamAt TauhidBloggingBukti Dan Fakta,DakwahImanIslamlifeMuslimREligionReligiusTauhid

MediaMuslim.Info – Imam Syafi’i, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal Imam Syafi’i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adalah tokoh dari kalangan umat Islam dengan multi keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits). Dan Imam Adz-Dzahabi menjuluki beliau dengan sebutan Nashirus Sunnah (pembela sunnah) dan salah seorangMujaddid (pembaharu) pada abad kedua hijriyah.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: “Inilah wasiat Imam Syafi’i yang diberikan kepada para sahabatnya, ‘Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh Yang Maha Satu, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk AllohSubhanahu wa Ta’ala semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun. Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu haq, adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala membalas hambaNya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi InsyaAlloh. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kalam AllohSubhanahu wa Ta’ala, bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Alloh Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha’ qadarNya.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasullulloh shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu’anhum. Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah) selama mereka mendirikan sholat. Tidak boleh membangkang serta memberontak mereka dengan senjata. Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy. Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun diharamkan. Dan nikah mut’ah adalah haram.
Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamdan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid’ah dan hawa nafsu. Bertaqwalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jum’at, jama’ah dan sunnah (Rasullulloh Shallallahu’alaihi wasallam). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca “Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan ‘abduhu warasuluh”.
Di antara yang diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu’aib tentang wasiat Imam Syafi’i adalah: “Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid dengan sebuah dosa, sekalipun mengerjakan dosa besar, aku serahkan mereka kepada AllohAzza Wajalla dan kepada takdir serta iradah-Nya, baik atau buruknya, dan keduanya adalah makhluk, diciptakan atas para hamba dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang dikehendaki menjadi kafir, kafirlah dia, dan siapa yang dikehendakiNya menjadi mukmin, mukminlah dia. Tetapi Alloh Subhanahu wa Ta’ala  tidak ridha dengan keburukan dan kejahatan dan tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan, mencintai dan meridhainya. Orang yang baik dari umat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam  masuk Surga bukan karena kebaikannya (tetapi karena rahmatNya). Dan orang jahat masuk Neraka bukan karena kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan keinginan dan kehendakNya, maka segala sesuatu dimudahkan bagi orang yang diperuntukkannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits. (Riwayat Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Aku mengakui hak pendahulu Islam yang sholeh yang dipilih oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyertai NabiNya, mengambil keutamaannya. Aku menutup mulut dari apa yang terjadi di antara mereka, pertentangan ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiallahu ‘anhum. Mereka adalah Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan lisanku, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk yang diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh (ucapan seseorang yang melafazhkan Al-Qur’an apakah makhluk atau bukan) adalah bid’ah, begitu pula sikap tawaqquf (diam, tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu bukan makhluk, juga tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu makhluk”) adalah bid’ah. Iman adalah ucapan dan amalan yang mengalami pasang surut. (Lihat Al-Amru bil Ittiba’, As-Suyuthi, hal. 152-154, tahqiq Mustofa Asyur; Ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, Ibnul Qayyim, 165).
Kesimpulan wasiat di atas yaitu:
  • Aqidah Imam Syafi’i adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  • Sumber aqidah Imam Syafi’i adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau pernah mengucapkan: sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak diterima) kecuali dengan (dasar) Kitabulloh atau Sunnah RasulNya. Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). Waallu a’lam. ( Manaqibusy Syafi’i, 1/470&475)
  • Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, dan menolak apa yang ditolak oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Karena itu beliau menetapkan sifatistiwa’ (Alloh Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas), ru’yatul mukminin lirrabbihim (orang mukmin melihat Tuhannya) dan lain sebagainya.
    • Dalam hal sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Imam Syafi’i mengimani makna zhahirnya lafazh tanpa takwil (meniadakan makna tersebut) apalagi ta’thil (membelokkan maknanya). Beliau berkata: “Hadits itu berdasarkan zhahirnya. Dan jika ia mengandung makna lebih dari satu, maka makna yang lebih mirip dengan zhahirnya itu yang lebih utama.” (Al-Mizanul Kubra, 1/60; Ijtima’ul Juyusy, 95).
      Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang harus diimani, maka beliau menjawab, bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya karena Al-Qur’an turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat itu.
      Maka barangsiapa yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma’dzur (diampuni) karena kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat AllohSubhanahu wa Ta’ala) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat “Yadaini” (dua tangan), dengan firmanNya, yang artinya:“Tetapi kedua tangan Alloh terbuka” (QS: Al-Maidah: 64). Dia memiliki wajah, dengan firmanNya, yang artinya: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajahNya” (QS: Al-Qashash: 88).” (Manaqib Asy-Syafi’i, Baihaqi, 1/412-413; Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, Al-Lalikai, 2/702; Siyar A’lam An-Nubala’, 10/79-80; Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, 94).
  • Kata-kata “As-Sunnah” dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi’i dimaksudkan untuk tiga arti. Pertama, adalah apa saja yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasululloh, berarti lawan dari bid’ah. Kedua, adalah aqidah shahihah yang disebut juga tauhid (lawan dari kalam atau ra’yu). Berarti ilmu tauhid adalah bukan ilmu kalam begitu pula sebaliknya. Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang mendalami ilmu kalam, maka seakan-akan ia telah menyelam ke dalam samudera ketika ombaknya sedang menggunung”. (Al-Mizanul Kubra, Asy-Sya’rani, 1/60). Ketiga, As-Sunnah dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yang datang dari Rasululloh selain Al-Qur’an.
    Ahlus Sunnah disebut juga oleh Imam Syafi’i dengan sebutan Ahlul Hadits. Karena itu beliau juga berwasiat: “Ikutilah Ahlul Hadits, karena mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya.” (Al-Adab Asy-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/231). “Ahli Hadits di setiap zaman adalah bagaikan sahabat Nabi.” (Al-Mizanul Kubra, 1/60)
Di antara Ahlul Hadits yang diperintahkan oleh Imam Syafi’i untuk diikuti adalah Imam Ahmad bin Hanbal, murid Imam Syafi’i sendiri yang menurut Imam Nawawi: “Imam Ahmad adalah imamnya Ashhabul Hadits, imam Ahli Hadits.”
(Sumber Rujukan: Al-Majmu’, Syarhul Muhazzab; Siar A’lam, 10/5-6; Tadzkiratul Huffazh, 1/361; dan sebagaimana dilihat pada setiap penggalan diatas).

Kamis, 05 Mei 2011

Perkataan - perkataan imam syafi'i

Imam Syafi’I
Riwayat – riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafi’I dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus dan para pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung. 
Beliau berpesan antara lain:
a.     “setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah saw dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakana atau sesuatu yang aku katakana itu berasal dari Rasulullah saw tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oelh Rasulullah saw itulah yang menjadi pendapatku. (HR. Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi’I, seperti tersebut dalam Kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir (XV/1/3), I’lam al-Muwaqqi’in (II/363-364), al-Iqazh hal 100)
b.     “seluruh kaum musli telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu Hadits dari Rasulullah saw tidka halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang”. (Ibnul Qayyim (II/361), dan al-Filani hal. 68)
c.     “bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah saw itu dan tinggalkanlah pendapatku itu”. (Harawi dalam kitab Dzamm al-Kalamm (III/47/1), al-Khathib dalam Ihtijaj bi asy-Syafi’I (VIII/2), Ibnu Asakir (XV/9/1), Nawawi dalam al-Majmu’ (I/63), Ibnul Qayyim (II/361), al-Filani hlmm. 100 dan riwayat lain oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (IX/107) dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (III/284, al-Ihsan) dengan sanad yang shahih dari beliau, riwayat yang semakna)
d.     “bila suatu hadits itu shahih, itulah madzhabku”. (Nawawi, dalam al-Majmu’, Sya’rani (I/57) dan ia nisbathkan kepada Hakim dan Baihaqi, Filani hlm. 107, Sya’rani berkata: “Ibnu Hazm menyatakan hadits ini shahih menurut penilaiannya dan penilaian imam – imam yang lain. 
e.     “kalian (ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayaktn oleh Ibnu Abi Hatim dalam Kitab Adabu asy-Syafi'i hlm. 94 - 95, Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (IX/106), al-Khatib dalam al-Ihtijaj (VIII/1), diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dari beliau (XV/9/1), Ibnu Abdil Barr dalam Intiqa hlm. 75, Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hlm. 499, al-Harawi (II/47/2) dengan tiga sanad, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari bapaknya, ahwa Imam Syafi'i pernah berkata kepadanya:"... hal ini shahih dari beliau. oleh karena itu, Ibnu Qayyim menegaskan penisbatannya kepada Imam Ahmad dalam al-I'lam (II/325) dan Filani dalam al-Iqazh hal. 152.lebih tahu tentang hadits dan para rawinya daripada aku. Apabila suatu hadits itu shahih, beri tahukanlah kepadaku biar dimanapun orangnya, apakah dikuffah, bashrah, atau syam, sampai aku pergi menemuinya”.
f.      “bila suatu masalah ada haditsnya yang sah dari Rasulullah saw menurut kalangan ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya,, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati.(Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (IX/107), al-Harawi (47/1, Ibnul Qayyim dalam al-I'lam (II/363) dan al-Filani hlm. 104)
g.     “Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits nabi yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.
h.     “setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari nabi saw. Hadits nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku.(Ibnu Abi Hatim dalam adabu asy-Syafi'i hlm.93, Abul Qasim Samarqandi dalam al-Amali seperti pada al-Muntaqa, karya Abu Hafs al-Muaddib (I/234), Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (IX/106), dan Ibnu Asakir (15/10/1) dengan sanad shahih)
i.      “setiap hadits yang datang dari nabi saw berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku”. (Ibnu Abi Hatim hlm. 93 - 94)

Dinukil dari kitab SIFAT SHALAT NABI hlm. 57, edisi revisi terbitan Media hidayah Yogyakarta. th. 2000/12
الشافغي رحمه الله
وأماالإمام الشافغي رحمه الله ؛ فالنقول عنه في ذلك أكثر وأطيب وأتبا أكثر عملآ بها وأسعد، فمنها:
1ـ(( مامن أحد إلا وتذهب عليه سنة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعزب عنه، فمهما قلت من قول، أو أصَّلت من أصل فيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف ما قلت؛ فالقول ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وهو قولي ))
2 ـ (( أجمع المسلمون على أن من استتبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ لم يحمل له أن يدعها لقول أحد))
3 ـ (( إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ودعواماقلت)) . (وفي رواية: (( فاتبعوها، ولا تلتفتواإلى قول أحد))
4ـ((إذا صح الحديث فهو مذهببيى))
5ــ (( انتم  أعلم بالحديث والرجال مني، فإذا كان الحديث الصحيح، فأعلموني به أي شيء يكون : كوفيا أوبصريا أوشاميا؛ حتى أذهب إليه إذاكان صحيحا))
6ـ كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ماقلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي))
7ـ إذارأيتمونيي أقول قولا، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه؛ فاعلمواأن عقلي قدذهب))
8ـ ((كل ماقلت؛ فكان عن النبي صلى الله علييه وسلم خلاف قولي مما يصح؛ فحديث النبي أولىى، فلا تقلدوني))
9ـ ((كل حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم فهو قولى، وإن لم تسمعوه مني))


Rabu, 04 Mei 2011

Asas-asas Mazhab Syafi'e

Pertama: Mengikut Al-Qur'an dan As-Sunnah
Tidak syak lagi bahawasanya Imam As-Syafi'e terlalu kuat dalam berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Kedua: Mengikut Kebenaran dan Dalil
Ini merupakan antara ciri-ciri keistimewaan mazhab Imam As-Syafi'e di mana tiada apa yang dapat memisahkannya daripada berusaha untuk berpegang dengan kebenaran. Beliau tidak mengikut amalan mana-mana penduduk sesuatu tempat dan sebagainya. Didapati bahwasanya ada sebahagian imam yang menjadikan amalan sesuatu penduduk sesuatu tempat adalah sebagai hujah sepertimana yang dilakukan oleh Imam Malik r.a. yang menjadikan amalan penduduk Madinah sebagai hujah dan tidak mengambil riwayat-riwayat daripada penduduk negeri lain.
Imam Abu Hanifah r.a. pula mengambil riwayat daripada ahli Iraq sahaja, dan tidak akan bercanggah pendapat dengan mereka. Tetapi,keterbukaan Imam As-Syafi'e dengan mengambil ilmu dari pelbagai sumber, dari mana-mana ulama' di serata dunia.

Ketiga: Mengambil Berat Tentang Perkataan Para Sahabat
Imam As-Syafi'e r.a. menganggap bahawasanya perkataan para sahabat r.a. yang bersepakat dalam sesuatu perkara sebagai hujah dalam mengambil hukum. Adapun jika para sahabat r.a. berselisih dalam sesuatu perkara, maka Imam As-Syafi'e mencari dalil-dalil untuk mentarjihkan (menguatkan) antara pendapat-pendapat para sahabat r.a. tersebut.
Imam As-Syafi'e berpendapat bahawasanya jika seorang sahabat r.a. memberi fatwa dalam sesuatu masalah dan fatwanya adalah satu-satunya perkataan yang wujud dalam masalah tersebut, tanpa ada nas-nas lain daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka perkataan sahabat tersebut lebih utama dijadikan hujah daripada qiyas.
Adapun jika perkataan sahabat r.a. tersebut dalam masalah-masalah yang diberi keluasan untuk berijtihad padanya (masalah ijtihadiyah), maka perkataan sahabat r.a. tidaklah dianggap lebih utama daripada para mujtahidin yang lain, menurut Imam As-Syafi'e r.a..

Keempat: Berpegang dengan Kaedah Qiyas
Imam As-Syafi'e berpegang dengan manhaj yang sederhana berkenaan penggunaan kaedah qiyas. Beliau tidak terlalu bersikap keras sepertimana Imam Malik r.a. dan tidak juga bersikap terlalu terbuka dalam penggunaan qiyas seperti keterbukaan Imam Abu Hanifah r.a. dalam penggunaannya. Imam As-Syafi'e r.a. menganggap bahawasanya qiyas juga mempunyai kepentingan yang besar dalam perkembangan ilmu fiqh dan usul fiqh, lalu menjadikan qiyas dan ijtihad itu sendiri adalah satu makna yang sama.

Kelima: Mengambil kira Terhadap Asal bagi Sesuatu Perkara
Sesungguhnya, mazhab Imam As-Syafi'e dibina di atas asas-asas yang kukuh antaranya adalah asas yang kelima ini. Maka, asal bagi sesuatu perkara yang memberi manfaat, namun tidak ada nas mengenainya, maka hukumnya adalah mubah (boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan: harus).

Keenam: Al-Istishab
Istishab ialah: Menetapkan sesuatu perkara di zaman kedua sepertimana ianya ditetapkan pada zaman yang  pertama. Iaitu, jika kita mengetahui suatu hukum terhadap sesuatu pada zaman pertama, lalu tidak terzahir sesuatu petunjuk yang menunjukkan hukum tersebut dihilangkan pada zaman kedua, maka pada zaman kedua itu juga turut kita hukumkan dengan hukum asal pada zaman pertama tersebut.
Contohnya: Asal hukum itu ialah, seseorang itu “terlepas (bara’ah) daripada sebarang tanggungan terhadap manusia lain” sehingga ada dalil yang menunjukkan bahawasanya dia sudah memikul tanggungjawab terhadap orang lain. Maka, asal "keterlepasan"nya daripada tanggungan terhadap manusia lain itu digunakan secara istishab dalam kes seperti contohnya: seseorang itu (si A) dituduh mempunyai hutang dengan seseorang yang lain (si B), namun tidak ada bukti menunjukkan bahawasanya dia (si A) pernah berhutang dengan orang (si B) tersebut. Maka, dengan kaedah istishab ini, kita mengembalikan orang (si A) tersebut kepada hukum asalnya sebelum tuduhan tersebut dilakukan iaitu "keterlepasan daripada tanggungan terhadap manusia lain", maka dia (si A) tidak perlu membayar hutang tersebut kepada si B.

Ketujuh: Al-Istiqra'
Istiqra' ialah: Mengkaji atau meneliti (tatabbu’) perkara-perkara yang cabang (furu') dan hukum perkara-perkara cabang yang saling berkaitan tersebut kepada suatu perkara yang turut berkait rapat dengan perkara-perkara tersebut. Ia merupakan suatu proses meneliti pelbagai perkara cabang yang mempunyai persamaan dari sudut-sudut tertentu, yang membawa kepada hukum yang sama, lalu menjadikan hukum tersebut sebagai hukum yang menyeluruh terhadap cabang-cabang yang termasuk dalam masalah tersebut.
Contohnya: Hukum solat witir.
Kalau kita mengkaji (tatabbu’) keadaan Nabi s.a.w. khususnya dalam masalah solat, kita dapati suatu kaedah
umum daripada perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. secara menyeluruh tersebut bahawasanya, Nabi s.a.w. tidak pernah menunaikan solat fardhu di atas kenderaan sewaktu bermusafir sama sekali. Jika Rasulullah s.a.w. menunaikan sesuatu solat di atas kenderaan, maka daripada kaedah umum yang kitamfahami sebelum tadi, menunjukkan bahawasanya solat yang ditunaikan oleh Nabi s.a.w. di atas kenderaan tersebutmadalah solat sunat.
Oleh yang demikian, bilamana kita ingin mencari hukum tentang solat witir, lalu kita menemui bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah menunaikan solat witir di atas kenderaan, maka kita meletakkan hukum sunat bagi solat witir hasil daripada kita mengaitkannya dengan hukum menyeluruh yang kita sebut sebelum tadi dalam kaedah "Rasulullah s.a.w. hanya menunaikan solat sunat sahaja di atas kenderaan". Maka, kaedah umum yang membawa hukum menyeluruh ini memberi petunjuk kepada hukum solat witir yang dicari, dengan menjadikan solat witir sebagai satu cabang daripada kaedah tersebut, dalam masa yang sama berkongsi hukum yang sama dengan yang lain iaitu: hukum solat witir adalah sunat. Jadi, dapat difahami juga, sebarang nas-nas yang mana zahirnya seolah-olah mewajibkan solat witir sebenarnya adalah sekadar suatu bentuk "menguatkan lagi galakan terhadap menunaikan solat witir itu sendiri.

Fasal: Kaedah Mengambil Bilangan paling Sedikit dalam Perkataan-perkataan Para Mujtahidin
Imam As-Syafi'e r.a. berpendapat bahawasanya kita perlu mengambil pendapat yang menyebutkan bilangan yang paling sedikit dalam sesuatu masalah yang melibatkan bilangan, takkala berlaku perselisihan pendapat dalam kalangan para ulama', kerana bilangan yang paling sedikit juga termasuk dalam bilangan yang paling banyak itu sendiri (contohnya: 1 itu termasuk dalam bilangan 10 itu sendiri).
Kaedah ini digunakan oleh Imam As-Syafi'e r.a. bilamana tiada lagi dalil dijumpai dalam masalah tersebut melainkan perkataan-perkataan ulama' tersebut.
Contohnya:
Hukum diyyah (bayaran pampasan yang melibatkan nyawa) kafir zimmi
Para ulama' berselisih pendapat tentang hukum diyyah kafir zimmi:
Pendapat Pertama: sepertiga daripada diyyah seorang muslim.
Pendapat Kedua: separuh daripada diyyah seorang muslim (mazhab Maliki)
Pendapat Ketiga: sama seperti diyyah seorang muslim (mazhab Hanafi)
Maka, Imam As-Syafi'e mengambil pendapat yang pertama iaitu sepertiga dariapda diyyah seorang muslim kerana ianya merupakan pendapat yang paling sedikit dalam masalah ini. Ini kerana, bilangan yang terrendah ini turut mengandungi perkataan yang mengatakan separuh diyyah muslim dan turut mengandungi perkataan seluruh diyyah muslim.
Sepertiga diyyah muslim terkandung dalam pendapat kedua iaitu separuh diyyah muslim dan terkandug juga dalam pendapat yang ketika iaitu semua bilangan diyyah muslim.
Wallahu a’lam…
(diambil dan diadaptasi daripada buku Al-Madkhal ila dirasah Al-Mazahib Al-Arba'ah karangan Mufti Mesir, Prof. Dr. Ali Jum'ah)